DOKTER GIGI HARUS MENERIMA PASIEN HIV AIDS

Dokter gigi harus siap merawat serta menghilangkan diskriminasi dan stigma negatif bagi pasien HIV AIDS, demikian dikatakan Dr. Irna Syufiawati, drg. Sp.PM selaku Ketua Panitia The 8th World Workshop on Oral Health and Disease in AIDS (WW8), kepada wartawan.

Kegiatan yang diselenggarakan di Hotel Trans Resort Kuta Bali 13-15 September 2019 ini, dibuka dibuka secara simbolis dengan pemukulan gong oleh Menteri Kesehatan yang diwakili oleh Staf Ahli Kementerian Kesehatan, M. Subuh dengan didampingi oleh para pembicara luar negeri.
Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan workshop yang telah berlangsung sejak taun 1988. John Greenspan, penggagas Lokakarya tersebut mengatakan bahwa pelaksanaan workshop telah memberikan dampak bagi perkembangan keilmuan kesehatan mulut dan HIV AIDS. Di antaranya Deklarasi Beijing pada tahun 2013 pada saat WW6 yang telah mendorong dokter gigi untuk melakukan perwatan pasien HIV AIDS termasuk tindakan invasif. Sementera itu Deklarasi Phuket 2004 telah melahirkan komitmen untuk bertindak dalam penelitian dan pengelolaan HIV AIDS dan kesehatan mulut. 
Menyoroti masalah HIV-AIDS di Indonesia, salah seorang pembicara dari Indonesia, Pandu Riono mengatakan tes deteksi virus yang menyerang kekebalan tubuh (HIV) penting untuk pencegahan penularannya. Akan tetapi, minatnya amat rendah, karena orang berperilaku rentan terserang HIV lebih takut terhadap stigma. Pandangan buruk masyarakat awam tersebut lambat laun menghambat ekonomi dan sosial orang dengan HIV AIDS.  
Acara yang diikuti oleh sekitar 600 peserta dari berbagai negara ini diselenggarakan atas kerjasama Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dengan Queen Mary University of London, UCSF (University of California San Fransisco), King Collage London, IADR (International Associations of Dental Researchers), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Universitas Mahasaraswati, Universitas Udayana, dan Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia.
 

0 komentar:

 
Hak cipta copyright © 1997-2018 Dentamedia, isi dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya
© free template by Blogspot tutorial